Tuesday, June 25, 2013

Makam Sanghyang Sirah Ujung Kulon

Sanghyang Sirah : Sirahnya Pulau Jawa


Sanghyang Sirah ? Ya Sanghyang Sirah, letaknya persis di ujung pulau Jawa atau kepalanyanya pulau Jawa dan posisinya termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Propinsi Banten. Sirah dalam bahasa Jawa/Sunda berarti kepala.

Sudah sejak lama saya ingin sekali mengunjungi daerah Sanghyang Sirah ini. Beberapa kali tertunda dengan berbagai kendala. Baru tahun 2013 ini, keinginan saya tercapai. Dan ini tidak lepas dari adanya amanah karuhun (leluhur) untuk berziarah ke Sanghyang Sirah. Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa di Sanghyang Sirah terdapat maqam atau petilasan Prabu Siliwangi. Ada yang mengatakan petilasannya Prabu Kian Santang, Prabu Tajimalela, Prabu Sungging Perbangkala dan lain-lain. Tetapi intinya berkaitan dengan para karuhun Sunda khususnya dan karuhun pulau Jawa pada umumnya.

Perjalanan Sanghyang Sirah dimulai dengan rombongan team kita yang di pimpin dengan ketua rombangan, Tangerang pada hari Jumat (19/04/2013) jam 06.30 WIB. Setelah berkumpul, kami mengadakan rapat untuk merencanakan segala kemungkinan yang terjadi sepanjang perjalanan ke Sanghyang Sirah. Setelah dihitung seluruhnya ternyata rombongan yang pergi berjumlah 09 orang dan diputuskan memakai 1 buah mobil,

Tepat jam 02.30 WIB dengan diiringi oleh Cuaca puanas mentereng, kami memulai perjalanan ke Sanghyang Sirah. Alhamdulillah sepanjang perjalanan hujan selalu menyertai kami. Dari Tangerang ke Sanghyang Sirah, kami menggunakan rute via jalan tol Jakarta-Merak dan keluar di Serang Timur. Dari Serang, kendaraan menuju Kabupaten Pandeglang dimana Sang Hyang Sirah merupakan bagian dari Kabupaten Pandeglang.

Tetapi untuk menuju ke Sanghyang Sirah hanya bisa dengan 2 jalur yaitu jalur darat dengan jalan kaki melewati Pos Pertama Taman Nasional Ujung Kulon di Taman Jaya yang membutuhkan waktu 3 hari 3 malam dan jalur laut menggunakan kapal nelayan jenis trawl yang singgah di pantai Bidur kemudian perjalanan dilajutkan dengan jalan kaki ke Sanghyang Sirah yang jaraknya tinggal 1 km lagi.

Kami memutuskan untuk mengambil jalur laut. Tetapi sebelumnya harus lapor dulu ke Juru Kunci Abah Syargani di Cipining dan kemudian baru lapor ke Petugas Taman Nasional Ujung Kulon di Pulau Peucang sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.


Kami tiba di desa Cipeun, Sumur sekitar jam 03.00 pagi WIB (Jumat 19/04/2013) baru tiba di tempat kediaman abah syargani, beberapa kali kesasar untuk menemukan rumah Abah Syargani, juru kunci Sanghyang Sirah telah tiba di kediaman Abah Syargani bahwa beliau sudah meninggal,akhirnya kami di antar dengan saudaranya alm Abah Syargani, Setelah istirahat sejenak di tempat kediaman juru kunci Abah (lupa namanya).

Kami disuruh menunggu kedatangan kapal nelayan yang dipesan oleh anak buahnya Abah. Tepat pukul 04.45, kami diajak Abah menuju pantai Cipining sebagai tempat merapatnya kapal nelayan yang kami pesan. Memang kapal nelayan tidak bisa langsung merapat ke pinggir pantai yang berpasir. Untuk membawa kami ke kapal trawl tersebut maka digunakan perahu kecil yang kapasitasnya untuk 2 orang dan sangat terbatas beban muatannya. Sambil menunggu barang-barang kami diangkut maka ajang potret memotret menjadi aktivitas kami saat itu. Akhirnya satu persatu dari kami dapat diangkut dan dinaikkan ke kapal nelayan yang berkapasitas untuk 40 orang tersebut. Perlu diketahui selain kami yang berjumlah 9 orang, Abah menyertakan seorang anak buahnya yang berfungsi sebagai tukang masak, pengangkut barang dan lain-lain.

Rombongan Serpong menuju Sanghyang Sirah

Rombongan Serpong menuju Sanghyang Sirah

Sepanjang perjalanan di laut, banyak pemandangan indah yang dapat dinikmati dan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan alam Indoneia yang cantik. Ada salah satu pengalaman menarik yang saya dapat dari para nelayan disana yaitu mengetahui kedalaman air laut dengan melihat dari warna airnya. Kata mereka, air laut berwarna hijau menandakan kedalamam sampai 75 meter, air laut berwarna biru langit menandakan kedalaman sampai 200 meter dan air laut berwarna biru kehitam-hitaman menandakan kedalaman lebih dari 500 meter.
Setelah beberapa jam perjalanan kami yang diringi dengan angin barat yang kencang, akhirnya kami sampai juga di Pulau Peucang untuk melaporkan dan meminta ijin kepada petugas Taman Nasional Ujung Kulon tentang maksud dan tujuan kami ke Sanghyang Sirah yang merupakan daerah yang masuk dalam wilayah Taman Nasional. kami menunggu di Pulau Peucang.
Tepat pukul 06.30 (Sabtu 20/04/2013) perjalanan dilanjutkan ke Sanghyang Sirah. Pada awalnya gelombang ombak masih normal dan cuaca sungguh cerah. Tetapi ketika memasuki wilayah Tanjung Layar tiba-tiba, cuaca berubah menjadi pasang. Beberapa kali lambung kapal dihantam ombak. Memang tidak salah kami membawa Abah juru kunci yang sangat menguasai medan, dengan sigapnya beliau memerintahkan nahkoda untuk balik dan tidak memaksakan untuk melawan alam. Kapal kami dibelokkan kembali dan mencari tempat di pinggir kawasan Taman Nasional. Abah juru kunci memerintahkan nahkoda untuk merapat dulu ke pantai Cibom sambil menunggu cuaca dan gelombang laut normal. Jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Setelah berdiskusi sejenak, kami meminta Abah juru kunci untuk melanjutkan perjalanan lewat darat. Rupanya dari Cibom ke Sanghyang Sirah berjarak 10,2 km (itu baru kata Abah yang sebenarnya lebih dari itu). Akhirnya kami memutuskan perjalanan dengan jalan kaki dan kapal diperintahkan menunggu dan ditambatkan di pantai Cibom.
Rupanya medan yang kami hadapi tidak semudah yang dibayangkan. Dari Cibom, kami memasuki hutan Taman Nasional yang berstruktur bukit dan masih asri karena jarang dilewati sehingga perlu dilakukan pembabatan tumbuhan-tumbuhan yang menutupi jalan setapak yang telah dibuat sebelumnya. Naik turun bukit yang cukup melelahkan membaut saya agak kelelahan (harap maklum sudah lama tidak olahraga dan tubuh juga tambun. Jadi sudah susah bawa badan ditambah lagi barang bawaan hehehe). Sekitar perjalanan 1 jam akhirnya kami sampai di pantai Ciramea dengan panorama indah menjelang malam. Di Ciramea kami istirahat dulu dan Abah dan anak buahnya mulai sibuk membuat air minum, memasak ikan, mie instan dan sebagainya. Setelah perut kenyang, sekitar jam 11.00 kami melanjutkan perjalanan ke Sang hyang Sirah.
Berfose dulu di pantai ciramea

Berfose dulu di pantai ciramea

Karena kondisi medan yang dilalui cukup berat dengan tanjakan dan turunan yang membuat kaki bisa sampai ke dada. Seorang teman, Ibu ika merasakan keletihan yang luar biasa. Saya merasakan kaki seperti tidak mau digerakkan dan ibu ika merasakan kepala pusing seperti dunia berputar. Kemudian Abah juru kunci menyuruh kepada team kita untuk berbaring sejenak dan Abah beserta anak buahnya membuatkan kopi sejenak supaya dapat melanjutkan perjalanan.
Kami sempat bertanya kepada Abah untuk menunggu kawan kita sesuai dengan perintahnya. Tetapi kata Abah, uyut dan rombongan belum sampa. Benar saja baru menaiki satu bukit dengan tanjakan yang curam, tiba-tiba terdengar suara Pak madi (salah seorang rombongan kita) memanggil nama abah dan diikuti oleh 2 orang lainnya. saya mengatakan bahwa Abah menyuruh kami untuk meneruskan perjalanan dan beliau tidak akan ke Sanghyang Sirah alias balik ke Cibom.
Kok bisa begitu ya ? Itulah yang sempat terpikir dalam otak saya. Rupanya ada maksud tertentu yang tidak mau diungkapkan oleh abah. Akhirnya persis berjumlah 9 orang melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Sirah.
Dengan perasaan pasrah dan ikhlas, akhirnya tepat pukul 19.30 WIB Alhamdulillah Team saya sampai di Sanghyang Sirah sebagai rombongan dengan kondisi yang sangat lelah dan lapar. Kemudian kami melepaskan lelah dengan membuat minuman sesuai dengan kesukaan masing-masing. Ada beberapa yang makan roti, popmie dan biskuit yang tersisa dari perjalanan panjang tersebut. Kebetulan di dekat persinggahan tersebut ada sungai yang airnya sejuk, menyegarkan dan dingin sehingga membuat kami membersihkan dan mendingnkan tubuh kami terlebih dahulu di sungai tersebut.



Tepat pukul 19.30, kami memasuki wilayah petilasan Sanghyang Sirah yang sangat dikeramatkan oleh beberapa kalangan yang mempunyai perhatian terhadap sejarah nenek moyang atau karuhun Sunda. Tampak sebuah tebing tinggi dan sebuah mushola yang sekaligus sebagai tempat istirahat. Selain itu persis di pinggir pantai tamapak berdiri tegak 2 buah pulau karang yang sangat indah pemandangannya.
Setelah menunggu sejenak, kami disuruh Abah untuk mandi terlebih dahulu di sumur dari mata air Saman yang letaknya di depan pintu masuk gua Sanghyang Sirah yang dikeramatkan. Kemudian kami melakukan ritual Rasulan sesuai dengan adat Sunda dengan berbagai macam sajian penghirmatan kepada karuhun dan juga ungkapan rasa bersyukur kami karena dengan perlindungan Allah maka bisa sampai dengan selamat di Sanghyang Sirah.
Setelah itu kami diajak Abah masul ke dalam gua Sanghyang Sirah. Di dalam gua kami dilarang melakukan aktivitas pemotretan dan harus melepas alas kaki. Tepat di depan petilasan yang katanya petilasan Prabu Siliwangi, kembali kami melakukan doa dipimpin oleh Abah.
Selanjutnya kami diajak masuk ke dalam lokasi yang masih dalam gua keramat tersebut. Namanya lokasi Batu Qur’an, tampak sebuah batu yang berada ditengah kolam air yang katanya air tersebut berasal dari 4 mata air yang berada di 4 sudut kolam tersebut. Kemudian satu persatu kami dimandikan oleh Abah dan disuruh melakukan tawaf (berjalan mengelilingi layaknya mengelilingi Ka’bah pada ibadah haji) sebanyak 7 kali sambil mengucapkan shalawat nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah seluruh kegiatan ritual di dalam gua keramat tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Abah mengatakan bahwa disitulah pusatnya ilmu secara spiritual di pulau Jawa dan dengan dimandikannya kami maka diharapkan terbukalah pikiran/wawasan berpikir yang ada di dalam otak tentang jati diri dan mengerti tentang asal usul kita sebagai manusia ciptaan Allah SWT.
petilasan Sanghyang Sirah

gua keramat Sanghyang Sirah

Setelah mempersiapkan segalanya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Bidur, sekalian melihat kapal nelayan yang mungkin bisa membawa kami ke pantai Cibom. Setelah melihat-lihat sekeliling laut dan tidak ada kapal nelayan yang lewat Sementara itu Abah dkk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke pantai Cibom dan menyuruh kapal kami yang ditambatkan disana untuk menjemput kami. Alhamdulillah kami dan team kami telah sampai pantai cibom pukul 13.00,kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang ke cipining.

Sesampainya di Cipining, kami langsung pamit kepada orang-orang yang telah membantu kelancaran perjalanan ini. Langsung saja kami meluncur ke ketempat kediaman abah, persis jam 18.00 WIB. Alhamdulillah kami team dari 9 orang selamat walafiat semuanya...amin!!!!!!
Selanjutnya ketua team kami melakukan acara selamatan atas keberhasilan kami sampai di Sanghyang Sirah dan kembali dengan selamat tiba di serpong. Setelah itu, kami bisa santai dan menceritakan pengalaman kami kepada para tamu yang hadir. Sungguh sebuah kepuasan lahir dan batin. Dan tanpa terasa obrolan santai tersebut membuat kami tidak bisa tidur sampai pagi harinya.





0 comments:

Post a Comment

Design by Yudie Hanafi Visit Original Post Padepokan Banten